Jawa Barat selama lebih dari tiga dekade telah mengalami perkembangan ekonomi yang pesat. Saat ini peningkatan ekonomi modern ditandai dengan peningkatan pada sektor manufaktur dan jasa. Disamping perkembangan sosial dan infrastruktur, sektor manufaktur terhitung terbesar dalam memberikan kontribusinya melalui investasi, hampir tigaperempat dari industri-industri manufaktur non minyak berpusat di sekitar Jawa Barat.
PDRB Jawa Barat pada tahun 2003 mencapai Rp.231.764 miliar (US$ 27.26 Billion) menyumbang 14-15 persen dari total PDB nasional, angka tertinggi bagi sebuah Provinsi. Bagaimanapun juga karena jumlah penduduk yang besar, PDB per kapita Jawa Barat adalah Rp. 5.476.034 (US$644.24) termasuk minyak dan gas, ini menggambarkan 82,4 persen dan 86,1 persen dari rata-rata nasional. Pertumbuhan ekonomi tahun 2003 adalah 4,21 persen termasuk minyak dan gas 4,91 persen termasuk minyak dan gas, lebih baik dari Indonesia secara keseluruhan. (US$1 = Rp. 8.500,-).
Perekonomian Jawa Barat yang diukur berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku pada triwulan I-2014 mencapai Rp. 288,31 triliun rupiah, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan 2000 mencapai Rp. 98,90 triliun rupiah. Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat triwulan I-2014 dibandingkan triwulan IV-2013, yang diukur dari kenaikan PDRB atas dasar harga konstan meningkat sebesar 0,80 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, pertumbuhan ini terutama didukung oleh Sektor Pertanian yang meningkat sebesar 17,91 persen karena mulai adanya masa panen tanaman padi pada triwulan I-2014. PDRB Jawa Barat pada triwulan I-2014 dibandingkan triwulan IV-2013 (y-on-y) mengalami pertumbuhan sebesar 5,49 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan didukung oleh hampir semua sektor kecuali Sektor Pertambangan dan Penggalian yang mengalami penurunan sebesar 3,03 persen. Sementara pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Sektor Pengangkutan dan Komunikasi sebesar 11,85 persen.
Lambatnya pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat ini karena beberapa faktor,
utamanya disebabkan dari sisi permintaan rumah tangga dan investasi.
Kemudian, dari segi penawaran disebabkan karena turunnya kinerja
industri pengolahan, perdagangan, hotel, dan restoran (PHR) serta sektor
pengangkutan dan komunikasi.
Namun demikian, komponen ekspor menunjukkan kinerja yang cukup kuat seiring dengan kondisi eksternal yang cenderung membaik serta meningkatnya perdagangan antar daerah.
Selain itu, sektor pertanian dan jasa-jasa tumbuh meningkat dan menahan laju perlambatan yang lebih dalam.
Namun demikian, komponen ekspor menunjukkan kinerja yang cukup kuat seiring dengan kondisi eksternal yang cenderung membaik serta meningkatnya perdagangan antar daerah.
Selain itu, sektor pertanian dan jasa-jasa tumbuh meningkat dan menahan laju perlambatan yang lebih dalam.
Menurut kami nih gengs, lambatnya
konsumsi rumah tangga karena dampak melonjaknya inflasi pasca kenaikan
harga BBM bersubsidi, komoditas pangan, tarif listik dan depresiasi
nilai tukar rupiah.
Kurang lebih gitu gengs perekonomian yang ada di Jawa Barat, kalau kurang jelas harap di maklumi ya gengss. Karena semua personil kelompok ini gabisa move on(?) WKWKWKWK. Ga gitu sih sebenernya wkwkwk. Sampai bertemu di postingan selanjutnya, love ya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar